Gus Miftah, model milenial nyentrik Dai NU

Gus Miftah, Model Milenial NU Pakai Frankenstein

Penulis: KH. Imam Jazuli, Lc. , M.A TRIBUNNEWS.COM-Namanya Miftah Maulana Habiburrahman atau biasa disapa Gus Miftah. Anak muda yang mampu mengelola pesantren memiliki nama yang unik: Ora Aji. Berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Ia adalah keturunan ke-19 dari Kiai Ageng Hasan Besari milik Ponorogo. Kiai Ageng Hasan Besari hidup pada abad ke-18 dan menjadi guru Maharaja Jawa. Ia dikenal karena pengaruhnya karena Kiai Hasan Besari tahu bagaimana memadukan dua aspek: Islam dan nasionalisme. Almarhum Gus Dur (presiden keempat Indonesia) menyebut sosok Kaii Hasan Besari sebagai model Yurima yang bisa memadukan Islam dan nasionalisme. Gus Miftah adalah seorang pemuda generasi kita yang juga mewarisi darah perjuangan dari kakek buyutnya, yang seorang nasionalis dan juga seorang Islamis. Gus Miftah sering disebut “Pujakesuma”, yang berarti putra Jawa yang lahir di Sumatera. Itu terjadi pada Agustus 1981, di Desa Adiluhur di Jabung timur Lampung Timur. Ia bersekolah di Bustanul Ulum, sebuah pesantren di Jayasakti, Lampung Tengah. Pada 1999, dia pindah ke Yogyakarta. Di antara sekian banyak pemuda Nahdlatul Ulama gus, Gus Miftah dianggap paling berprestasi. Terhitung mulai 7 Mei 2020, telah dilakukan survei terhadap ustad-ustad, yang memiliki kategori followers, subscriber, dan viewer tertinggi. Topik penelitiannya adalah YouTube, Facebook dan Instagram. Di kanal Instagram, “jemaah” Gus Miftah adalah 1,1 juta (Instagram). Ustad-ustad di atas Gus Miftah adalah Hanan Attaki (8,2 juta), AA Gym (5,5 juta), Felix Siaw (4,6 juta), Abdul Somad (3,2 juta), Syeikh Ali Jaber (3 juta), Adi Hidayat (2,7 juta) , Yusuf Mansur (2,6 juta), Zaidul Akbar (2,4 juta), Khalid Basalamah (1,8 juta) dan Syafiq Riza Basalamah (1,3 juta). Jadi Gus Miftah adalah yang ke-11. Di kanal Facebook, Gus Miftah memiliki jemaah sebanyak 155.000 orang. Ustad di atasnya memiliki Yusuf Mansur (6,8 juta), Stadion AA (6,8 juta), Syafiq R Basalamah (648.000), Khalid Basalamah (469.000), Firanda Andirja (32,8) Sepuluh ribu), Salim A Fillah (275.000), Emha Ainun Najib (188.000). Karena itu, Gus Miftah menempati urutan ke-8. Di kanal YouTube, Gus Miftah mengumpulkan 401.000 orang dan memiliki 22 juta penonton. Usad-ustad di atas Gus Miftah adalah: Khalid Basalamah (1,35 juta, 51,5 juta penonton), Hanan Attaki (1,18 juta, 34 juta penonton), Abdul Somad (785.000, 30 juta penonton), Adi Hidayat (739.000) , Dengan 19,1 juta penonton), Syafiq R Basalamah (645.000, 44.2 juta penonton), Felix Siaw (637.000, 33.6 juta penonton). Karena itu, Gus Miftah menempati urutan ketujuh. Hasil penelitian ini bukan untuk membandingkan Ustad dengan imam lainnya. Namun, data ini digunakan sebagai informasi tentang sebaran teknologi dan generasi milenial yang paham media sosial. Konten milenial Ustad-Ustad dan tren milenial digital. Pada saat yang sama, variabel lain tidak dipertimbangkan, seperti desa dan jemaah desa yang belum mengenal teknologi. Tidak ada publikasi ilmiah yang menyebutkan afiliasinya. Ketenaran Gus Miftah dimulai dua tahun lalu. Pada tahun 2018, sebuah video menjadi viral dan muncul berupa pembacaan doa nabi di sebuah klub malam. Nama Gus Miftah mulai didengar masyarakat. Lambat laun, artis terbaik Deddy Corbuzier tiba-tiba masuk Islam di depan Gus Miftah. Terakhir, almarhum Didi Kempot pun mendapat kabar bahwa ia kerap mengaji di Pesantren Ora Aji di Gus Miftah. Kepemimpinan Gus Miftah yang buruk dan banyak trik membuatnya lebih menakutkan dibandingkan misionaris NU lainnya. Salah satu alasannya adalah fleksibilitas. Sikapnya yang fleksibel dan kemauannya untuk berinteraksi dengan banyak orang dari semua lapisan masyarakat membuatnya diterima oleh banyak kalangan. Misalnya, ketika seorang pengguna jaringan virus mencemarkan nama baik Gus Miftah dan mengatakan bahwa berdakwah di dunia kelab malam yang redup itu tidak pantas, seorang pekerja membela malam itu. Mereka menanggapi kata-kata kotor yang mengkritik Gus Miftah. Seseorang berkata: “Bukankah orang-orang seperti kita layak mendapatkan wahyu dan pengetahuan agama ?!” Pembelaan ini sangat memilukan. Gus Miftah dibela oleh mereka yang membutuhkan. Mereka yang ingin menjadikan agama sebagai cahaya hidup ketika hidup penuh dengan dosa dan amoralitas. Pada saat yang sama, kelompok penista agama ini menggunakan agama untuk mengusir orang lain. Betapa kontrasnya. Fleksibilitas dakwah Gus Miftah telah menginspirasi banyak orang, publik, pemerhati, cendekiawan bahkan politisi. Bahkan berusia 20 tahunPada tanggal 19, Anis Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, memuji peran sosial, agama dan etnis Gus Miftah. Anis berkata: “Rumah itu bisa berada di desa dan mempengaruhi dunia.” Dari sana, keleluasaan Gus Miftah membuatnya bisa bergaul dengan berbagai macam pesta, dari klub malam hingga artis hingga pejabat. Da’i NU seperti ini memang perlu bagi kaum milenial. Metode dakwah akan terus memposisikan dirinya dari waktu ke waktu. Dengan berkembangnya media sosial (seperti Instagram), tak terkecuali Gus Miftah. Tidak hanya dari satu scene ke scene lainnya, tapi juga “positioning” di jejaring sosial sangat menarik. Konten disesuaikan dengan karakteristik media sosial; tajam, ringkas, padat, dan jelas. Alhasil, pemahaman tentang Islam, nasionalisme, keluwesan dakwah, penguasaan teknologi, dan radikalisme di media sosial menjadikan Gus Mutafi sebagai calon penceramah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ideal saat ini. Tak berlebihan jika berharap geng-geng lain akan menyusul Gus Miftah. Terakhir, NU adalah gudang Urama. Penonton membutuhkan penampilan kiai dan gus NU. Karena demografinya berbeda, peran fleksibel seperti Gus Miftah sangat penting. Ini sangat mendesak. [] Penulis adalah mantan pesantren di Kediri Lirboyo; Jurusan alumni Universitas Al-Azhar Mesir. Teologi dan filsafat; alumni Fakultas Pendidikan, Universitas Malaysia, Departemen Kebijakan dan Strategi; lulus dari Universitas Malaya, Departemen. Riset Strategi dan Pertahanan Internasional; Wali Pondok Pesantren Cirebon Bina Insan Mulia; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Persatuan Pesantren Indonesia); Pengurus Nahdlatul Ulama (PBNU), 2010-2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *