Harapannya Kementerian Agama segera merevisi aturan agar tidak mempersulit beasiswa Al-Azhar di Mesir!

Begitu pula jika Kementerian Agama berkukuh untuk menjunjung tinggi aturan lama, yakni memperkuat hafalan Alquran dan penguasaan bahasa Arab, maka aturan lama ini secara tidak langsung menjadi alasan ketangguhan banyak Azhar kuno di Indonesia. Wathathiyah (Wathathiyah), bukan lagi pemikiran Islam moderat. Pada saat yang sama, aturan lama tersebut secara langsung membatasi santri di pondok pesantren salafy seperti Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan pendidikan di Al-Azhar. Karena mengaji dan kefasihan berbahasa Arab adalah mata pelajaran khusus dengan pendidikan yang tidak memadai, bukan mata pelajaran utama.

Tradisi Pondok Pesantren Salafia Islam lebih memperhatikan penguasaan khazanah Islam, pengkajian Islam, adat klasik lintas disiplin ilmu, dari ilmu-ilmu instrumental (Nahwu, Shararaf, Balaghah) hingga fiqh, ushul fiqh, tafsir, ulumut tafsir, Hadits, ulumul hadits dan bahkan tanggal subjek. Tradisi Pondok Pesantren Sarafiya adalah lambang Universitas Islam di Indonesia. Jika peraturan Kementerian Agama hanya fokus pada mengaji dan menguasai bahasa Arab maka akan sangat merugikan para pelajar yang menjaga NKRI. -Sejujurnya, akhir-akhir ini yang penulis maksud adalah banyak alumni Al-Azhar di Indonesia yang tidak lagi menganut Islam Vasadia. Tetapi pada saat yang sama, penulis menyaksikan banyak orang Santri yang baru saja lulus dari rumah kayu kecil di desa, dan mereka memendam semangat Islam Rahmtan lil alamin yang disebutkan oleh Syekh Agung Azar sendiri. Kementerian Dalam Negeri bisa membaca ini melalui polarisasi antara alumni Al-Azhar. Selama ini ada yang berdampak besar terhadap aturan Kementerian Agama, ada pula pinang dalam perjalanan menuju Al-Azhar,

diakui KH Imam Jazuli, Gus ยท Gus Yaqut dan General Manager M Ali Ramdhani kurang berani mengubah peraturan Kementerian Perdagangan dan butuh lebih banyak harapan. Meski dua acara ini mewakili “milenial nahdiyyin”, nyatanya mereka tidak serupa dengan umat Islam biasa. Apalagi dengan nahdiyyin berdiri di samping, para penulis berhusnudzan melihat teman-temannya, dan ada secercah harapan untuk mengubah urusan agama. Tunggu sebentar! Wallahu’alam bishawab .

* H. Jamil Abdul Latief, Lc. , ME (2012-2013 President of Egyptian Students and Student Association, 2013-2014 President of Indonesian Expatriates in Indonesia, President of Alumni Association-Azhar Egypt Third Region Cirebon (2016-sekarang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *