Menantikan sikap Wasathiyah dan penegakan HAM PBNU

Tunggu sikap penegakan hukum dan HAM PBNU Washatiyah

: KH. Imam Jazuli (Imam Jazuli, L.), Massachusetts (MA) *

TRIBUNNEWS.COM-Habib Rizjek Shihab ( Kembalinya HRS) meninggalkan banyak masalah metodologis. Polarisasi Uma antar kelompok dan melawan pemerintah semakin akut. Organisasi besar seperti PBNU bekerja keras untuk mengekspresikan konsep Washathiyah (kerendahan hati) sebagai tindakan nyata yang dapat diterapkan.

Bertekad dan menunggu tanggapan PBNU terhadap pandangan pembunuhan 6 anggota FPI Laskar ini memang seru dan bikin hati bergetar, disisi lain ormas besar lain seperti Muhammadiyah juga mengutarakan Menanggapi posisinya sendiri, pengurus pusat Muhammadiyah tidak tinggal diam atas penembakan polisi terhadap enam anggota organisasi paramiliter REIT. Mendesak Presiden Jokowi segera membentuk tim yang independen, obyektif dan imparsial untuk mengusut tuntas masalah tersebut. Dalam kelompok independen ini, Muhammadiya mengusulkan untuk melibatkan Komas HAM dan Ikatan Dokter Indonesia (KTP). Mengungkap fungsi penegakan hukum, alasan polisi dan TNI menggunakan senjata dan kekuatan di luar fungsi perang. Sikap ini jelas, dengan sasaran TNI-Polri.

Di bawah pendirian tegas Muhammadiya, polarisasi Uma menjadi semakin tak terelakkan. Muhammadiyah mencari keadilan bagi FPI korban di base camp HAM dan IDI di Komnas. Di sisi lain, FPI dan PBNU memiliki pandangan berbeda tentang ideologi, misi visual, strategi dan metode Dawa. -Muhammadiyah mengutip dan mengutip peran Komnas HAM dan IDI, sangat strategis mengikuti tim independen. Dukungan terhadap Komnas HAM dan kalangan medis menunjukkan semangat Washathiyah (kerendahan hati) dan PBNU harus didiskusikan sejak awal. Ibarat kata, Muhammadiyah berhasil memulai. Namun, ketika terjadi perselisihan sengit antara TNI-Polri dan FPI, tidak mudah menerjemahkan konsep Washathiyah NU ke dalam narasi politik nasional yang spesifik. Salah satu kendala yang dihadapi adalah kesejarahan FPI, TNI dan Polri-FPI merupakan anak yang bersemangat era reformasi 1998. Pasca lengsernya rezim orde baru Soeharto (Orban), FPI juga mempromosikan demokrasi dan kebebasan. Tentunya dengan membawa ciri khas Anda sendiri. Namun terlepas dari karakteristik REIT, keharmonisan TNI-Polri dan REIT telah terekam dalam sejarah. Selain itu, terlepas dari sifat FPI yang anarkis dan destruktif, pelayanan sosial dan humanistik ormas radikal ini tidak bisa diabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *