Resesi ekonomi dan pandemi adalah masalah umum

Penulis: Presiden MPR RI Bambang Soesatyo

TRIBUNNEWS.COM- Resesi dan pandemi Covid-19 adalah dua hal yang saling berkaitan. Memang karena pandemi Covid-19 akan terjadi resesi pada tahun 2020. Untuk menghilangkan dua jebakan tersebut, peran masyarakat dalam mematuhi peraturan kesehatan merupakan kontribusi yang paling menentukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Bahkan kelompok kerja penanganan Covid-19 mengaku belum bisa memprediksi waktu puncak Covid. Untuk kasus Indonesia, nilainya -19. Untuk kelompok kerja, kisah pandemi ini sangat bergantung pada kepatuhan masyarakat terhadap pelaksanaan kesepakatan kesehatan. Fluktuasi jumlah kasus Covid-19 sebenarnya ditentukan oleh respon masyarakat terhadap prosedur kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan sering mencuci tangan. Seperti kita ketahui bersama, akibat pertumbuhan negatif pada triwulan kedua dan ketiga tahun ini, perekonomian Indonesia sudah berada dalam area resesi. Penghitungan prakiraan pemulihan ekonomi nasional hanya bisa mengambil tren jumlah kasus Covid-19 sebagai faktor utama. Pemerintah dengan optimis memprediksi perekonomian nasional akan memulai proses pemulihan pada kuartal keempat tahun 2020 dan mempercepat pertumbuhannya pada tahun 2021. Namun, optimisme tersebut masih dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 dan ketersediaan vaksin corona pada 2005. 2021. Jika gagal membantu menekan jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air, optimisme tersebut tidak akan terwujud dan akibatnya akan sangat tidak menyenangkan. Ini karena tidak semua orang bisa membuang surplus resesi. Tentu saja, kehidupan selama ini menjadi sangat tidak nyaman karena dia masih direpotkan oleh ketakutan akan penandatanganan dengan Covid-19, karena keadaan keuangan semua orang semakin sulit. Oleh karena itu, hubungan atau saling pengaruh antara resesi ekonomi dan pandemi Covid-19 tidak dapat mengimbangi fakta tersebut, melainkan fakta yang harus diterima dan diselesaikan oleh semua sektor masyarakat. -Oleh karena itu, tidak ada yang kebal terhadap kemungkinan ini lagi. Tertanda Covid-19. Selain itu, anggapan bahwa pandemi global Covid-19 dibuat secara artifisial tidak lagi mapan. Faktanya, Covid-19 seharusnya tidak lagi dianggap sebagai penyakit orang kaya. Fakta membuktikan bahwa virus ini dapat menyebar ke siapa saja tanpa terkecuali. Dari besar ke kecil, dari yang kaya ke yang membutuhkan, dari orang biasa hingga pejabat tinggi. Dan jangan lupa itu disebut pandemi global, karena virus SARS-CoV-2 sudah menyebar ke setiap negara di dunia. Dari negara kaya atau negara adidaya ke negara miskin.

Jumlah kematian global Covid-19 melebihi 1 juta, dan jumlah kasus yang dikonfirmasi melebihi 34 juta. Para ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sangat yakin bahwa angka tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Dipercaya bahwa jumlah kasus dan kematian lebih tinggi dari angka yang dikonfirmasi. Di Amerika Serikat, situasi ini paling mengkhawatirkan, dengan 7,1 juta kasus dikonfirmasi dan 205.000 kematian. Disusul Brasil dengan 4,7 juta kasus dan 142.000 kematian. India berikutnya. Meskipun jumlah kasusnya besar, ada sekitar 6 juta kasus, dan jumlah kematian 95.000 lebih sedikit daripada di Brasil.

Pahami fakta dan tren di Amerika Serikat, Brazil dan India.Tidak semua lapisan masyarakat Indonesia harus menyederhanakan ancaman Covid. -19. Setiap orang harus memperhatikan, karena rata-rata jumlah kasus baru meningkat lebih dari 4.000 kasus per hari. Akibat penambahan 4.174 kasus baru pada Kamis (1/10), jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air meningkat menjadi 291.182 dengan total 10.856 kematian. Faktanya, jumlah pasien yang sembuh setelah metode polymerase chain reaction (PCR) terus meningkat. Hingga Oktober 2020, jumlah penderita Covid-19 yang sudah pulih sebanyak 218.417 orang. Namun, kecepatan pemulihan ini tidak boleh membuat semua orang meremehkan ancaman Covid-19. Selain itu, dengan kesadaran masyarakat dan aksi bersama untuk menekan kasus Covid-19 seminimal mungkin, citra bangsa-bangsa akan membantu mempercepat pemulihan ekonomi. Penyebaran Covid-19 telah mendorong banyak negara termasuk Indonesia ke dunia.Dan mengandalkan keberadaan vaksin korona. Beberapa hari lalu, Presiden Jokowi mengatakan akan divaksinasi COVID-19 dalam waktu dekat untuk memulihkan kehidupan normal. Presiden bahkan optimistis vaksin bisa diberikan kepada masyarakat pada akhir 2020 atau awal 2021. Pada tahap awal, vaksin sudah memprioritaskan sekitar 170 juta orang. Kemudian, vaksinasi semua orang secara bertahap. Amerika Serikat juga menunjukkan sikap dan posisi yang sama. Pendiri Microsoft Bill Gates telah mendanai produksi beberapa vaksin corona, bahkan memperkirakan masyarakat Amerika akan kembali ke kehidupan normal pada musim panas 2021. Hal ini diyakini Gates karena vaksin korona telah disetujui untuk disuntikkan ke semua orang. Tahun berikutnya di dunia Amerika. -Di Indonesia, pemerintah telah bekerja keras, tidak hanya menyediakan vaksin dalam jumlah atau jumlah yang cukup, tetapi juga meminimalkan kerusakan sektor ekonomi akibat wabah dan resesi ekonomi. Untuk merealisasikan produksi vaksin PT Bio Farma, Sinovac akan mensuplai bahan baku dari China mulai November 2020. Berdasarkan kesepakatan antara Bio Farma dan Sinovac, Indonesia akan menerima bahan baku hingga 50 juta dosis. Pasokan pembayaran ini akan berlanjut hingga Maret 2021. Bahan bakunya diuji pertama kali oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Produksi vaksin diharapkan dapat dimulai pada awal 2021. Tahun ini, kapasitas produksi 100 juta dosis Bio Farma akan meningkat menjadi 250 juta dosis pada tahun 2021.

Dalam rangka menjaga ketahanan ekonomi dan kesehatan masyarakat, pemulihan dan transformasi ekonomi KPCPEN (Satgas PEN) terus bekerja keras untuk meningkatkan realisasi penyerapan fiskal. Untuk masalah pemulihan ekonomi dan kesehatan masyarakat, anggaran yang dikelola oleh kelompok kerja adalah 695,2 triliun rupiah. Total anggaran tersebut bertujuan untuk mendukung ketahanan empat sektor, yaitu perlindungan sosial, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), berbagai kementerian / lembaga, dan pemerintah daerah. Anggaran yang terserap mencapai 304,6 triliun rupiah atau 43,8%. -Khususnya dalam hal pemulihan ekonomi, pada akhir September 2020 akan menyerap lebih dari 100 triliun rupiah. Sementara itu, dana yang terserap dari anggaran perlindungan sosial mencapai Rp 36,3 triliun (97 triliun rupiah), terhitung 1% dari pagu anggaran Rp 37,4 triliun untuk 10 juta keluarga. Apalagi, rencana kartu sembako memiliki pagu atas Rp43,6 triliun menjadi Rp31,9 triliun. Jumlah penerima manfaat mencapai 73,2% atau 19,4 juta.

Buktikan bahwa negara dan pemerintah tidak hanya berada dalam pandemi dan resesi ekonomi, tetapi juga bekerja keras. Karena resesi ekonomi dan pandemi Covid-19 telah menjadi masalah umum, negara dan negara bagian perlu berkontribusi kepada masyarakat dalam bentuk kepatuhan terhadap peraturan kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *